Memperingati hari kartini siswa-siswi sd dan paud memakai kebaya.

Paud kober kasih bunda pawai keliling kampung (Dok.dwiwargatunggaljaya.desa.id/Photo:Hibban).

dwiwargatunggaljaya.desa.id (29/04/2018) | Memperingati Hari Kartini tanggal 21 April 2018, Siswa-Siswi SD dan PAUD Kampung Dwi Warga Tunggal Jaya memakai Kebaya dan pawai Keliling Kampung,Sehingga Jalan Perintis yang menghubungkan antar desa dan antar Kecamatan beberapa menit macet,dipadati oleh Siswa-Siswi dan PAUD serta Masyarakat memakai baju Kebaya dan Pakaian Adat  lainya juga ditampilkan sehingga suasana cukup meriah dalam rangka memperingati hari Kartini.

Seluruh sd dan paud se-dwi warga tunggal jaya pawai keliling kampung memakai baju kebaya (Dok.dwiwargatunggaljaya.desa.id/Photo:Hibban)

Sejarah diperinagtinya Hari Kartini pada tanggal 21 April adalah setelah ditetapkan oleh Presiden Sukarno dimana Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dan sekaligus menetapkan Hari Lahirnya yaitu Tanggal 21 April diperingati setiap Tahun sebagai Hari Besar yang Kemudian sebagai Hari Karini.

Paud kasih bunda pawai keliling kampung start dari halaman desa dwt jaya (Dok.dwiwargatunggaljaya.desa.id/Photo:Hibban)

Raden Adjeng ( RA ) Kartini adalah seorang dari kalangan Priyayi atau kelas Bangsawan Jawa Putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat,Bupati Jepara ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama,Ibunya bernama M.A Ngasirah, putri dari Nyai HJ Siti Aminah dan Kyai Hi Mad rono, seorang Guru Agama di Telukawur Jepara, Dari sisi Ayahnya silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang Wedana di Majong, Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang Bupati beristerikan seorang Bangsawan karena M.A Ngasirah bukanlah Bangsawn tinggi maka Ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Moerjam keturunan langsung Raja Madura, setelah Perkawinan itu maka ayah Kartini diangkat menjadi Bupati Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A Moerjam R.A, A Tjitrowikrono.

Kartini diperbolehkan bersekolahdi ELS ( Europece Lagere School ) disini Kartini belajar Bahasa Belanda tetapi setelah Usia 12 Tahun ia harus tinggal dirumah karena sudah dipingit, karena Kaertini bisa berbahas Belanda maka dirumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-temanya Korespondensi yang berasal dari Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon yang mendukungnya dari buku-buku dan majalah eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa, timbul keinginanya untuk memajukan perempuan Pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan Pribumi berada pada status sosial rendah.

Perhatianya tidak hanya semata-mata soal Emansipasi wanita tapi juga masalah sosial umum, Kartini memperjuangkan wanita agar memperoleh kebebasan ,Otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari Gerakan yang lebih luas.

(**Hbn/Dwt)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Komentar